PERKAWINAN ENDOGAMI PADA MASYARAKAT KETURUNAN ARAB DI INDONESIA

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pada masyarakat adat perkawinan bersangkut paut dengan urusan famili, keluarga, masyarakat, dan pribadi. Demikian yang terjadi pada masyarakat keturunan Arab di Indonesia, masyarakat yang masih kuat memegang prinsip kekerabatan berdasarkan keturunan (genealogis), dimana keluarga berperan besar dalam menentukan jodoh dan menikahkan anak. Bentuk perkawinan yang disukai adalah perkawinan endogami.

Kata kunci : perkawinan, keturunan Arab, genealogis, endogami.

I. PENDAHULUAN
Perkawinan merupakan suatu peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sedemikian penting arti dari perkawinan ini dikarenakan manusia tidak akan dapat berkembang tanpa adanya perkawinan, karena perkawinan menyebabkan keturunan, dan keturunan menimbulkan keluarga yang berkembang menjadi kerabat dan masyarakat. Jadi perkawinan merupakan unsur tali temali yang meneruskan kehidupan manusia dan masyarakat.
Definisi perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yag bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Selain itu dengan adanya perkawinan adalah untuk memenuhi tuntutan naluri hidup manusia, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan keluarga, sehingga hubungan kelamin tersebut menjadi halal dan akan tercipta keluarga yang diliputi rasa ketenteraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah.
Perkawinan dalam masyarakat adat berbeda dengan perkawinan pada masyarakat barat yang moderen. Pada masyarakat adat perkawinan bersangkut paut dengan urusan famili, keluarga, masyarakat, martabat dan pribadi. Sedangkan pada masyarakat barat yang moderen perkawinan hanya merupakan urusan yang kawin itu saja. Di kalangan masyarakat adat yang masih kuat prinsip kekerabatannya berdasarkan ikatan keturunan (genealogis), maka perkawinan merupakan suatu nilai hidup untuk dapat meneruskan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial yang bersangkutan. Selain itu perkawinan juga memiliki fungsi untuk memperbaiki hubungan kekerabatan yang telah menjauh atau retak, sehingga perkawinan tersebut merupakan sarana pendekatan dan perdamaian kerabat dan begitu pula perkawinan itu bersangkut paut dengan warisan kedudukan dan harta kekayaan.
Salah satu kelompok masyarakat yang masih memegang kuat prinsip kekerabatan berdaarkan ikatan keturunan ialah masyarakat keturunan Arab di Indonesia. Didalam masyarakat keturunan Arab tersebut bentuk perkawinan yang disukai adalah perkawinan juga dengan sesama keturunan Arab, terutama bagi anak perempuan. Bentuk perkawinan seperti ini seringkali disebut dengan perkawinan endogami dalam arti luas. Arti dari perkawinan endogami sendiri adalah sistem perkawinan yang hanya memperbolehkan seseorang kawin dengan seorang dari suku keluarganya sendiri. Karena endogami yang dimaksud adalah endogami dalam arti luas, maka pengertiannya menjadi seseorang tersebut harus kawin dengan seorang dari suku keluarganya sendiri namun tidak harus dari satu fam. Namun dalam masyarakat keturunan Arab di Indonesia, perkawinan sesama warga keturunan ini tidak dapat dilakukan asal keturunan Arab, namun harus dengan keturunan Arab yang masih satu golongan.

II. PERKAWINAN ENDOGAMI PADA MASYARAKAT KETURUNAN ARAB
Masyarakat keturunan Arab di Indonesia, walaupun sudah hidup berdampingan dalam siatuasi kemajemukan budaya, suku, dan, bahasa, dan bahkan sudah merasa menjadi orang Indonesia asli karena lahir di Indonesia dan dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi, namun dalam hal menentukan jodoh dan menikah masih menjalankan apa yang selama ini menjadi tradisi perkawinan masyarakat keturunan Arab. Dalam masyarakat keturunan Arab jenis perkawinan yang disukai adalah perkawinan endogami.
Dalam masyarakat keturunan Arab di Indonesia dikenal dua penggolongan besar yang terbentuk atas dasar keturunan. Golongan pertama disebut golongan alawy atau ba’alawy. Golongan ini meng-klaim sebagai keturunan dari Sayidina Ali bin Abi Thalib (sepupu sekaligus menantu dari Rasulullah SAW). Kaum laki-laki dari golongan ini menyebut dirinya Sayyid atau Syarif, sedangkan kaum perempuannya disebut syarifah atau sayidah. Adapun golongan yang kedua adalah qabili, yaitu golongan di luar kaum sayyid. Kaum laki-laki menyebut dirinya dengan sebutan syaikh. Di Indonesia pembedaan antara golongan alawy dan qabili juga dapat ditentukan berdasarka organisasinya, kelompok sayyidi umumnya merupakan pengikut organisasi Jamiat al-Kheir, sedangkan kelompok syaikh (Musyaikh) adalah pengikut organisasi al-Irsyad atau sering disebut dengan sebutan Irsyadi.
Hubungan antar kedua golongan ini di Indonesia berjalan kurang begitu baik. Kelas alawy senantiasa merasa bahwa mereka merupakan kasta bangsawan karena merupakan keturunan dari Nabi, sedangkan golongan qabili dianggap sebagai kelas biasa/masyarakat kebanyakan. Antara kedua golongan ini dilarang melakukan perkawinan. Khusunya bagi perempuan, tradisi tersebut cenderung diskriminatif, karena walaupun jenis perkawinan yang disukai adalah endogami dalam arti luas, namun khusus untuk wanita syarifah, pintu tersebut cenderung tertutup dikarenakan perempuan harus menikah dengan laki-laki Arab dari golongan yang sama. Sedangkan untuk laki-laki (sayyid) ketentuan tersebut sedikit lebih longgar dan dapat lebih leluasa menyimpangi tradisi ini dengan menikahi perempuan keturunan Arab yang berbeda golongan maupun bukan keturunan Arab. Dari segi kuantitas tradisi ini memang sudah jauh berkurang pada masa sekarang, namun tetap tradisi untuk menikahkan anak dengan cara-cara demikian masih merupakan tradisi yang hidup pada masyarakat keturunan Arab. Orangtua akan berperan besar dalam menentukan jodoh bagi anak, sehingga seringkali terjadi perkawinan tersebut terjadi tanpa persetujuan salah satu atau kedua calon mempelai. Dapat dikatakan bahwa tradisi tersebut melanggar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 karena di dalam Pasal 6 disebutkan bahwa perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai. Juga terdapat permasalahan lain dimana sering perjodohan terjadi dimana pihak-pihak yang dijodohkan masih berada dibawah umur, padahal Pasal 7 angka (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.
Pada perempuan keturunan Arab, memang dirasakan ada semacam diskriminasi dalam menentukan jodoh. Meskipun diatas sudah disebutkan bahwa jenis perkawinan yang disukai adalah perkawinan antar sesama keturunan Arab, khusus pada perempuan kelas Sayidah jodohnya pun harus dengan lelaki dari kelas Sayyid. Alasan yang kerap menyeruak adalah alasan nasab. Nasab bagi masyarakat Arab diperhitungkan dari garis laki-laki. Perempuan Arab Sayyid yang menikah dengan laki-laki Arab non Sayyid atau bahkan bukan keturunan Arab otomatis akan terputus nasabnya ke bawah. Sedangkan bagi laki-laki keturunan Arab dari kelas Sayyid, karena kendali nasab berada di tangannya, maka hal tersebut relatif tidak menjadi masalah. Masyarakat keturunan Arab Sayyid umumnya berpendapat bahwa sudah semestinya keturunan Rasulullah SAW dilestarikan dan dijaga, sebagaimana firman Allah SWT “Katakanlah wahai Muhammad, aku tak meminta pada kalian upah bayaran atas jasa ini, terkecuali kasih sayang kalian pada keluargaku (QS. Assyuura 13). Selain masalah nasab, hal yang menyebabkan perempuan keturunan Arab tidak bebas dalam menentukan jodohnya diakibatkan adanya pendapat dari Imam Syafii yang menyebutkan bahwasanya tidak kufu pernikahan antara keturunan Rasulullah SAW dengan orang yang bukan dzurriyah.

III. PENUTUP
Pada masa sekarang sudah sepantasnya kebiasaan memilihkan jodoh dan menikah tanpa persetujuan si anak dihilangkan. Hal ini dikarenakan adat kebiasaan tersebut melanggar UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Pasal 6), juga bertentangan dengan Pasal 16 UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.
Selain itu dalam ajaran agama Islam, yang merupakan agama masyoritas warga keturunan Arab, tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa seorang dari keturunan Arab juga harus menikah dengan sesama keturunan Arab. Rasulullah SAW telah bersabda “Wahai orang-orang, ketahuilah bahwa seungguhnya Tuhanmu Maha Esa, dan ayahmu satu (Adam AS), ingatlah, bahwa tidak ada kelebihan apa-apa bagi bangsa Arab atas orang Ajam (bukan orang Arab), dan tidak ada juga kelebihan orang Ajam daripada orang Arab, dan tidak ada kelebihan bagi orang kulit merah atas kulit hitam, dn sebaliknya tidak ada kelebihan orang kulit hitam atas orang kulit merah, kecuali (kelebihan) itu karena taqwa-nya kepada Allah (H.R. Ahmad).
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Azhar Basyir. 1999. Hukum Pekawinan Islam, Ctk. Kesembilan, UII Press, Yogyakarta
Hilman Hadikusuma. 2003. Hukum Perkawinan Adat dengan Adat Istiadat dan Upacara Adatnya, Ctk. Keenam, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Yulies Tiena Masriani. 2006. Pengantar Hukum Indonesia, Ctk. Kedua, Sinar Grafika, Jakarta.

Sumber Internet :
http://id.wikipedia.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: